Sabtu, 24 April 2010

SILSILAH AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH

KUFUR (KEKAFIRAN)

Makna “Kufur” secara bahasa adalah “At Taghthiyah” atau “As Satr” artinya “menutupi”.
Sedangkan “kufur” menurut istilah syar`i adalah “Kebalikan/lawan dari iman”, karena kufur merupakan bentuk tidak adanya keimanan kepada Alloh dan para rosul-Nya -alaihimusalaam-, sama saja apakah disertai pendustaan ataupun tidak, bahkan sekedar ragu, dan bimbang atau berpaling atau hasad atau sombong atau juga mengikuti sebagian hawa nafsu yang menghalanginya dari mengikuti risalah (para rosul) itu juga kekufuran, sekalipun kufurnya orang yang mendustakan adalah bentuk kekafiran yang paling parah, dan semisalnya kufurnya orang yang sebenarnya meyakini kebenaran para rosul –alaihimussalaam- tapi karena hasad, dia tentang dan dustakan. Wa nas-alullohal ``afiyah. (lihat majmu` fatawa –syaikhul islam- 12/335, Aqidatut tauhid hal. 81).


MACAM MACAM KUFUR.

Kufur terbagi menjadi dua macam :
1. Kufur akbar (Kufur Besar) yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.
2. Kufur Asghor (Kufur Kecil), meniadakan sempurnanya iman tapi tidak sampai menghilangkan asal iman, atau kemaksiatan yang dimutlakkan untuknya nama kufur, bersama masih tetapnya sebutan iman bagi pelakunya. Seperti hadits nabi “Mencela orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kufur”.
Penjelasan.

1. Kufur Akbar, yaitu kekafiran yang sampai mengeluarkan pelakunya dari islam.
• Sebab sebabnya
Seseorang bisa terjatuh kedalam kufur akbar melalui sebab sebab berikut :
a. Qoul (Ucapan), semisal mencela Alloh dan Rosul-Nya –shollallohu alaihi wasallam-, mencela para malaikat Alloh, mengaku dirinya nabi atau rosul, berdoa kepada selain Alloh ta`ala dan lain semisalnya.
b. Al Fi`lu au Al Amal (Perbuatan/amal), seperti sujud kepada berhala atau patung, membuang mushaf Al qur`an ke sampah, atau menginjaknya, dan semisalnya. (Siapa yang meniadakan kufur akbar dengan sebab amal atau perbuatan maka dia telah menyelisihi aqidah ahlussunnah wal jama`ah dan terperosok kepada pemahaman murji-ah yang buruk dan sesat, demikian juga seorang yang menyatakan bahwa semua perbuatan maksiat berarti kufur akbar, maka telah tersesat dan tejerumus kedalam bid`ah khowarij yang sesat dan merusak, maka perhatikanlah…!!!)
c. Al I`tiqod (Keyakinan), semisal meyakini adanya sekutu bagi Alloh, haramnya suatu yang jelas jelas halal atau sebaliknya, juga meyakini bolehnya keluar dari syari`at rosululloh –shollalllohu alaihi wasallam-, dan juga meyakini bahwa ada hukum yang lebih baik dan afdhol dari hukum Alloh ta`ala, dan lain semisalnya.

Jenis jenis kufur akbar.

1. Kufur Takdzib (mendustakan)
2. Kufur istikbar wa ibaa (Sombong dan enggan) sekalipun membenarkan.
3. Kufur I`rodh (berpaling).
4. Kufuf Syak (Ragu ragu).
5. Kufur Nifaq.

PENJELASAN

1. KUFUR TAKDZIB (MENDUSTAKAN).

Yaitu meyakini bahwa para rosul itu dusta dalam apa yang mereka bawa dari risalah Alloh ta`ala. Alloh Ta`ala berfirman :

ومن أظلم ممن افترى على الله كذبا أو كذب بالحق لما جاءه أليس في جهنم مثوى للكافرين. ( العنكبوت 68 )
Dan siapakah yang lebih dholim (kufur) dari seorang yang membuat kedustaan atas Alloh atau mendustakan kebenaran ketika telah datang kepadanya, bukankah jahannam itu tempat kembali bagi orang orang kafir.

Dan kufur jenis ini sangat sedikit terjadi pada orang orang kafir dibanding jenis yang lainnya, hal itu dikarenakan Alloh ta`ala memperkuat para rosul-Nya –alaihimussalaam- dengan mukjizat mukjizat, dan memberinya hujjah hujjah (bukti bukti kuat) dan tanda tanda akan benar dan jujurnya mereka (para rosul) sampai pada tingkat yang sangat jelas dan tidak menyisakan sedikitpun uzur. Alloh ta`ala menyatakan :

قد نعلم إنه ليحزنك الذي يقولون فإنهم لا يكذبونك ولكن الظالمين بآيات الله يجحدون. الأنعام : 33
Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakana itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (Janganlah bersedih hati), karena sebenarna mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang dholim itu mengingkari ayat ayat Alloh.

Dan Alloh juga menyatakan tentang Fir`aun dan kaumnya dalam firman-Nya :

وجحدوا بها واستيقنتها أنفسهم ظلما وعلوا فانظر كيف كان عاقبة المفسدين.النمل: 14

Dan mereka mengingkarinya karena kedholiman dan kesombongannya, padahal hati hati mereka meyakini (kebenaran Musa), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang orang yang membuat kerusakan.

2. KUFUR ISTIKBAR (SOMBONG) DAN IBAA (ENGGAN).

Yaitu tidak mau tunduk patuh terhadap kebenaran, bersama penetapan dan pengakuannya terhadap kebenaran tersebut.

Ini sebagaimana kufurnya iblis, dia tidak melawan perintah Alloh ta`ala dan tidak pula mendustakannya, juga tidak menghadapinya dengan mengingkari perintah tersebut. Tapi iblis menyambut perintah Alloh tersebut dengan sikap enggan untuk melaksankannya dan menyombongkan diri dengan mempertentangkan hikmah perintah Alloh tersebut dengan pendapat pendapatnya sendiri. Alloh ta`ala menyebutkan dalam Al Qur`an :
ولقد خلقناكم ثم صورناكم ثم قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس لم يكن من الساجدين. قال ما منعك ألا تسجد إذ أمرتك قال أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين. الأعراف : 11 – 12
Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para Malaikat “Bersujudlah kalian kepada Adam”, maka merekapun sujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Alloh berfirman “Apakah yang menghalangimu tidak mau sujud kepada Adam ketika aku memerintahmu..?!, Iblis menjawab “aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia dari tanah”.

وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس قال أأسجد لمن خلقت طينا. الاسراء 61
Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada para Malaikat “Sujudlah kalian kepada Adam..!”, maka merekapun sujud, kecuali iblis, dia berkata “Apakah aku akan sujud kepada seorang yang Engkau ciptakan dari tanah..?!”.


قال يا إبليس ما لك ألا تكون مع الساجدين. قال لم أكن لأسجد لبشر خلقته من صلصال من حمأ مسنون. الحجر 33

Dan (alloh) berfirman “ Wahai iblis..!! apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka.? . Iblis berkata “Aku sekali kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين. البقرة 34
Dan ingatlah..! ketika Kami berfirman kepada para Malaikat “sujudlah kamu kepada Adam..!”, maka merekapun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan Ia termasuk golongan orang orang yang kafir.

Masuk dalam jenis kufur ini adalah kufurnya orang yang mengenal kebenaran rasul Alloh, tapi dia hadapi dengan enggan dan sombong, sebagaimana Fir`aun dan kaumnya yang mereka mengatakan, sebagaimana dalam ayat Alloh :

ثم أرسلنا موسى وأخاه هارون بآياتنا وسلطان مبين. إلى فرعون وملئه فاستكبروا وكانوا قوما عالين . فقالوا أنؤمن لبشرين مثلنا وقومهما لنا عابدون. المؤمنون 45-47

Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda tanda (kebesaran) Kami dan bukti yang nyata. Kepada Fir`aun dan para pemuka kaumnya, tetapi mereka angkuh dan mereka memang kaum yang sombong. Maka mereka berkata “apakah (pantas) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka (bani isroil) adalah orang orang yang menghambakan diri kepada kita..?.
Ibnul Qoyyim menyatakan “Kalau keingkaran ini disebut juga kufur takdzib (mendustakan) maka benar, yaitu mendustakan dengan lisan”.

Dan juga semisal kufurnya umat umat dahulu yang berkata kepada para rosul yang Alloh utus kepada mereka, sebagaimana yang Alloh firmankan.

قالوا إن أنتم إلا بشر مثلنا تريدون أن تصدونا عما كان يعبد آباؤنا فأتونا بسلطان مبين

Mereka berkata “kamu hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata. (Ibrohim 10).

Juga masuk dalam jenis ini kufurnya Yahudi. Alloh berfirman :

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين. البقرة 89

Ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka katahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Alloh bagi orang orang yang inkar.

الذين آتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون. البقرة 146
Orang orang yang telah Kami beri kitab (Taurot dan Injil), mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.

Ini juga jenis kekafiran Abu Tholib. Abu Tholib meskipun ia membenarkan rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- dan tidak ragu akan kejujuran rosululloh, tapi dia terkalahkan oleh patriotisme kabilah, dan pengagungan leluhur kalau sampai membenci dan meninggalkan ajaran mereka, serta menyatakan kekafiran leluhurnya tersebut.
Karena itu perhatikanlah wahai saudarakau…!!!, termasuk bahaya yang berakibat sangat fatal yaitu kekafiran dan akhir hidup yang buruk, bila seorang sangat mengagungkan warisan dan ajaran leluhur yang jelas jelas menabrak syari`at islam bahkan dengan hal yang sangat asasi dalam islam yaitu tauhid. Dan alangkah banyaknya orang orang seperti ini… laa haula walaa quwwata illa billah.

3. KUFUR I`RODH (BERPALING).

Yakni berpaling hati dan pendengarannya dari rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-. Tidak membenarkan rosululloh juga tidak mendustakannya, tidak loyal juga tidak memusuhi, dan sama sekali tidak punya perhatian terhadapnya dan apa yang dibawanya. Pokoknya tidak urus dan tidak mau tahu, berpaling darinya.

Seperti perkataan salah seorang dari bani abdu yalil kepada rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- ketika beliau menyampaikan islam kepadanya, dia berkata “demi Alloh aku sampaikan kepadamu satu kalimat “jika engkau (dan apa yang engkau sampaikan) benar, maka engkau sangat mulia dalam pandanganku untuk aku membantahmu, dan jika engkau dusta, maka engkau sangat rendah untuk aku berbicara denganmu”. (Riwayat ini sebagian ulama menghukumi lemah).

Alloh ta`ala berfirman :
والذين كفروا عما أنذروا معرضون. الأحقاف 3
Namun orang orang kafir berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka.

4.KUFUR SYAK (RAGU RAGU).

Yaitu tidak memastikan perihal rosululloh –shollallohu alaihi wasallam apakah beliau itu jujur dan benar atau dusta. Tapi dia ragu ragu perihal rosululloh. Sedang seorang itu tidak akan terus menerus dalam keraguan perihal rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- kacuali jika dia bawa dirinya untuk berpaling secara total, sehingga tidak mau mendengar, melihat dan memperhatikan tanda tanda akan kejujuran dan kebenaran rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-.
Adapun seorang yang mau melihat dan memperhatikan bukti bukti akan kebenaran rosululloh –shollallohu alihi wasallam- tentu akan hilang keraguan tersebut tanpa tersisa sedikitpun, karena tanda dan bukti bukti tersebut memastikan akan benar dan jujurnya rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-, lebih lebih bila dikumpulkan semua bukti bukti tersebut. Karena keakuratan bukti dan yang ditunjukan olehnya akan jujur dan benarnya rosululloh, semisal jelasnya matahari pada siang bolong.

5. KUFUR NIFAQ.

Yaitu menampakan keimanan dengan lisannya dan menyembunyikan pendustaan dalam hatinya. Dan ini yang dimaksud dengan NIFAQ AKBAR (Nifaq besar) atau nifaq i`tiqody. Alloh berfirman :

إن المنافقين في الدرك الأسفل من النار ولن تجد لهم نصيرا. النساء 145
Sesungguhnya orang orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka.
ذلك بأنهم آمنوا ثم كفروا فطبع على قلوبهم فهم لا يفقهون. المنافقون 3
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian kafir maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti.

Adapun KUFRUL JUHUD (mengingkari), ada dua macam :

1. Kekafiran yang mutlak menyeluruh.
2. Kekafiran yang terbatasi dan khusus.

Maksud dari jenis yang pertama (kufur yang mutlak menyeluruh) adalah, mengingkari secara menyeluruh apa yang Alloh turunkan dari syari`at nya, dan diutusnya rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Tidak terbatas pada satu syari`at tertentu tanpa yang lainnya.
Sedang yang kedua, (kufur yang terbatas dan khusus) adalah semisal sengaja mengingkari salah satu kewajiban dari kewajiban kewajiban dalam islam, atau keharaman dari keharaman keharamannya, atau salah satu dari sifat sifat Alloh, atau kabar dari kabar kabar yang Alloh dan rosul-Nya kabarkan dengannya. Dan juga mendahulukan ucapan orang yang menyelisihi Alloh –karena suatu tujuan dari tujuan tujuan yang diinginkan-. Demikian uraian singkat ini, semoga Alloh menjauhkan kita dari jaring- jaring kekafiran.
(Lihat uraian ini pada kitab Madarijus Salikin, karya Imam Ibnul Qoyyim, juz 1hal 337-338 . Lihat juga “At Tabsyir bi qowaidit takfir, karya As Syaikh Al Muhadits Ali Bin Hasan Al Halaby hal 63 - 69).
Selengkapnya...

Senin, 05 April 2010

INFO PENERIMAAN SANTRI BARU MA'HAD TAHKIMUS-SUNNAH

Ma'had Tahkimus-Sunnah adalah sebuah lembaga tarbiyah yang berupaya untuk ikut berpartisipasi membina dan menyiapkan generasi islam yang lurus Aqidahnya, ber-akhlaq mulia dan berbekal ilmu agama yang mendalam dengan pemahaman yang benar yaitu sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Dan Alhamdulillah telah dibuka kembali pendaftaran santri baru pada tahun ajaran 2010/2011 (1431H/1432H). Untuk Lebih lanjut lihat brosur dibawah ini








Untuk Memperbesar gambar Klik Gambar 2X
Selengkapnya...

Selasa, 09 Maret 2010

SILSILAH "AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH"

AL IMAN

PENGERTIAN IMAN.
Iman secara bahasa adalah At Tashdiiq, atau Tashdiqul qolbi yaitu membenarkan, atau pembenaran hati. – syarh tsalatsatil ushul Ibnu Utsaimin hal 79-
Berkata Syaikh Muhammad ibn Sholih Al Utsaimin “ Iman secara bahasa adalah Penetapan dan pengakuan yang mengharuskan adanya penerimaan dan ketundukan dan ta`rif ini bersesuaian dengan pengertian iman menurut syar`i.

“. Adapun ucapan mereka bahwa iman adalah pembenaran maka perlu dikoreksi lagi, karena dalam bahasa dikatakan “ Aamantu bikadza…, dan Shoddaqtu fulan, dan tidak dikatakan “ Aamantu fulan, maka “Shoddaqo adalah fiil muta`ady (perlu obyek secara langsung), dan Aamana adalah fi`il lazim (tidak butuh obyek, maka diperlukan bantuan -diantaranya dengan huruf jer- untuk bisa ke obyeknya -pent).
Makna Iman melazimkan akan adanya penerimaan dan ketundukan, hal ini untuk menjaga dari adanya penetapan dan pengakuan, tapi tidak adanya penerimaan, seperti yang terjadi pada Abu Tholib paman Rosululloh. Karena dia, yakni Abu Tholib mengakui rosululloh bahwa beliau adalah jujur (dan agamanya adalah benar-pent), tapi tidak mau menerima apa yang dibawa oleh Rosululloh, tidak pula tunduk dan mengikutinya, maka tidaklah bermanfaat pengakuannya. Disini menunjukan harus adanya penerimaan dan ketundukan. –Syarh Arba`in haditsan nawawiyah- Syarh hadits jibril hal 42.

Dan inilah makna yang kuat dan mencakup, Alloh a`lam.

PENGERTIAN IMAN DALAM AQIDAH AHLUSSUNNAH

Para imam ahlil hadits (ahlussunah wal jama`ah) mereka mengatakan “ Iman adalah ucapan dan amalan dan ma`rifah (pengenalan), bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, seorang yang banyak ketaatannya maka lebih bertambah keimanannya dari pada orang yang dibawahnya dalam ketaatan”. –I`tiqod Aimmatil hadits hal 63-64-
Berkata Imam Ahmad ibn Hambal “ Al Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang”. –Ushulussunnah-. Dan adalah Imam Ahmad Ibn Hambal bermadzhab bahwa “Iman adalah ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan serta keyakinan dalam hati, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, menguat dengan ilmu dan melemah dengan sebab kebodohan. –Aqidah Ahmad Ibn Hambal hal 117-
Ketahuilah wahai saudaraku “semoga Alloh memberikan taufiq Nya kepadaku dan kalian dan muslimin “ bahwa agama yang Alloh utus dengannya para rasul Nya dan Alloh turunkan dengannya kitab kitab Nya, dan Alloh ridhoi ia bagi penduduk langit dan bumi Nya dan Alloh perintahkan untuk tidak diibadahi Dia kecuali dengannya dan tidaklah Dia terima dari seorangpun selainnya, dan tidaklah membencinya kecuali orang yang betul betul bodoh, dan tidak ada seorangpun yang lebih baik agamanya dari pada orang yang berpegang teguh dengannya dan mengikutinya, adalah ucapan yaitu ucapan hati dan lisan, dan amalan yaitu amalan hati, lisan dan anggota badan. Maka empat hal ini (ucapan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan), mencakup seluruh perkara agama ini. –Ma`arijul Qobul 587-588.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “dan termasuk pokok dari pokok pokok aqidah ahlussunnah wal jama`ah bahwa agama dan iman adalah ucapan dan perbuatan, ucapan hati dan lisan, dan amalan hati, lisan dan anggota badan, dan bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. – Al Aqidah Al Wasitiyah 32.

Dari ta`rif yang dijelaskan oleh para ulama tersebut bisa kita simpulkan bahwa pengertian iman dalam aqidah ahlussunnah wal jama`ah adalah i`tiqod dalam hati, ucapan lisan dan amalan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, atau ada ulama yang memberi ta`rif dengan istilah “Khomsunuunaat atau lima kalimat yang berakhiran huruf nun” yaitu “ I1tiqodun bil jinaan,(keyakinan dalam hati), wa qoulun billisaan (Ucapan dengan lisan), wa amalun bil arkaan(dan amalan dengan anggota badan), yaziidu bittho`atir Rohmaan (bertambah dengan mentaati Alloh),wa yanqushu bittho`atis syaithoon (dan berkurang dengan mentaati syaitan).”

KEDUDUKAN AMAL DALAM IMAN.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa amal dengan semua jenisnya baik amalan hati maupun amalan anggota badan adalah bagian dari hakikat iman itu sendiri, masuk dalam apa yang dinamakan iman. Ahlussunnah tidak mengeluarkan sekecil apapun amalan – apalagi amalan yang besar dan agung- dari hakikat iman. Sebagaimana para ulama ahlussunnah menyatakan bahwa iman adalah Qoulun (ucapan) wa Amalun (Amal perbuatan).
Karena itu iman bisa bertambah hingga mencapai kesempurnaanya dan bisa berkurang sehingga tidak tersisa sedikitpun dari pemiliknya. Dan ahlul iman itu bertingkat tingkat dalam derajat keimanannya. Maka barang siapa yang membatasi makna iman hanya pada pembenaran hati dan ucapan lisan saja tanpa amal perbuatan, sebagaimana perkataan hanafiyah, maka dia bukan ahlul iman yang benar, bahkan hal itu adalah kebatilan dan kesesatan.
Jadi aqidah yang benar, bahwa amal dengan segala jenisnya adalah bagian dari iman dan masuk dalam hakikat iman, dan bukan sekedar suatu tambahan atas iman.

Dengan ini kita ketahui sesat dan batilnya pemahaman :
a.Murjiatul fuqoha (hanafiyah) yang menyatakan bahwa iman itu sekedar ucapan lisan dan keyakinan hati, dan amal bukan bagian dari iman. Sehingga pelaku dosa menurut mereka tetap dinamakan mukmin secara haqiqi (sempurna imannya). Berkata Imam Abu Hanifah “dan kita tidak mengkafirkan seorang mukmin yang melakukan dosa sekalipun besar selagi tidak meyakini bolehnya, dan kita tidak hilangkan darinya sebutan iman dan tetap kita sebut mukmin secara haqiqi (sempurna)…-lihat mauqif syaikh ibrohim ar Ruhaily hal 181 dan catatan kaki no 2.
b.Karromiyah, mereka adalah pengikut Muhammad ibn Karroom Assijistany yang menyatakan bahwa iman itu sekedar ucapan lisan saja, tanpa ucapan hati dan amal perbuatan.
c.Jahmiyatul Murjiah, pengikut Jahm ibn Sofwan, yang menyatakan bahwa iman itu sekedar ma`rifat (mengenal) dengan hati semata. Dan sebagian ulama salaf telah menghukumi kafir kelompok ini.
d.Asya`iroh, yang menyatakan bahwa iman itu cukup hanya dengan i`tiqod (keyakinan) hati saja.
Inilah empat kelompok (firqoh sesat) murji`ah, mereka semua di atas i`tiqod yang
batil dan sesat, sekalipun berbeda beda tingkat kesesatan mereka.

DALIL DALIL BAHWA AMAL MASUK DALAM HAKIKAT IMAN

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَحِيمٌ . البقرة43 .1.

Dan tidaklah Alloh menyia nyiakan iman (sholat) kalian, sesungguhnya Alloh sangat belas kasihan terhadap manusia.
Yakni sholat kalian kearah baitul maqdis sebelum pemindahan kiblat. Dan dinamakan sholat dengan iman karena terkumpul padanya amalan hati dan lisan serta anggota badan.

2. ِإنَّمَا الْمُؤمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لمَ يَرتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَموَالِهِم وَأَنفُسِهِم فِي سَبِيلِ اللهِ أُولئِكَ هُمُ الصَّاِدقُونَ . الحجرات 15

Hanyalah orang orang yang beriman itu adalah orang orang yang beriman kepada Alloh dan rosul Nya kemudian tidak ragu ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Merekalah orang orang yang benar.

.3وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِليَكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيكُمُ اْلكُفْرَ والفُسُوقَ وَاْلعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ .

Tetapi Alloh menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu ind ah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Mereka itulah orang orang yang mengikuti jalan yang lurus.

Berkata Muhammad ibn Nasir Al Marwazy “…. Dan karena ketaatan itu semua masuk dalam iman, dan tidak ada satupun darinya yang keluar dari keimanan, Alloh tidak membeda-bedakannya, maka Alloh katakana : dan Alloh jadikan kalian cinta kepada keimanan, dan amalan amalan yang fardhu dan seluruh bentuk ketaatan. Bahkan Alloh mengglobalkan, maka Alloh katakan Habbaba ilaikumul iimaaan, maka masuk di dalamnya seluruh bentuk ketaatan, karena Alloh jadikan orang orang mukmin itu cinta kepada sholat, zakat dan semua bentuk ketaatan…….” Al Iman Ibnu Taimiyah 37.

4.إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون . الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون .الأنفال 2-3

Hanyalah orang orang yang beriman itu adalah orang orang yang bila disebut nama Alloh gemetar hati mereka, dan bila dibacakan pada mereka ayat ayat Nya bertambah (kuat) iman mereka dan mereka bertawakkal kepada robb mereka. Yaitu orang orang yang menegakkan sholat dan meninfakkan sebagian rizki yang kami berikan pada mereka.

5.قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خاشعون. والذين هم عن اللغو معرضون .
والذين هم عن اللغو معرضون . والذين هم للزكاة فاعلون . والذين هم لفروجهم حافظون. إلاعلى أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين . فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون.والذين هم لأماناتهم وعهدهم راعون.والذين هم على صلواتهم يحافظون. المؤمنون 9-1-

Sungguh beruntung orang orang yang beriman. Yaitu orang orang yang khusuk dalam sholatnya. Dan orang yang menjauhkan dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna. Dan orang yang menunaikan zakat. Dan orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali kepada istri atau budak yang mereka miliki, maka sungguh mereka tidak tercela, tapi siapa yang mencari dibalik itu (zina dll) maka merekalah orang orang yang melampui batas. Dan orang yang memelihara amanat dan janji janjinya. Dan orang yang memelihara sholatnya….

Dan lain lainnya dari dalil dalil yang sangat banyak baik ayat ayat al qur`an maupun hadits hadits nabi yang shohih yang menunjukan bahwa amal adalah bagian dari hakikat iman.
Maka siapa yang menyatakan iman bisa sempurna tanpa amal, atau amal itu bukan bagian dari iman atau kelaziman dari hal itu bahwa iman tidak bertambah dan berkurang, dia telah menyelisihi al qur`an dan hadits hadits rasululloh dan juga ijma para sahabat dan para imam ahlussunnah wal jamaah. Dan terperosok kepada pemahaman bid`ah murjiah yang batil dan jelek.
Dan siapa yang menyatakan bahwa iman itu ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati dan lisan dan anggota badan, bertambah dengan ketataan dan berkurang dengan kemaksiatan, dan ahlul iman itu bertingkat tingkat dalam keimanannya, maka dia telah terlepas dari murjiah dari awal sampai akhir. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad Ibn Hambal dan Imam Al Barbahary dan yang lainnya dari para ulama ahlussunnah. Walhamdulillah alladzy bi ni`matihi tatimmus shoolihaat.

DALIL DALIL BAHWA IMAN ITU BERTAMBAH DAN BERKURANG.

وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا ولا يرتاب الذين أوتوا الكتاب والمؤمنون وليقول الذين في قلوبهم مرض والكافرون ماذا أراد الله بهذا مثلا كذلك يضل الله من يشاء ويهدي من يشاء وما يعلم جنود ربك إلا هو وما هي إلا ذكرى للبشر.

Dan yang kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari Malaikat, dan Kami menentukan bilangan mareka itu hanya sebagai cobaan bagi orang orang kafir, agar orang orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang orang yang beriman bertambah imannya, agar orang orang yang diberi kitab dan orang orang mukmin itu tidak ragu ragu, dan agar orang orang yang didalam hatinya ada penyakit dan orang orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Alloh dengan (bilangan) ini?! Sebagai suatu perumpamaan?” demikianlah Alloh membiarkan sesat orang orang yang dia kehendaki memberi petunjuk kepada orang orang yang Dia kehendaki, dan tidak ada yang mengetahui bala tentara tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan (neraka) saqor itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.


إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون. الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون .أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم.

Hanyalah orang orang yang beriman itu adalah orang orang yang bila disebut nama Alloh gemetar hati mereka, dan bila dibacakan pada mereka ayat ayat Nya bertambah (kuat) iman mereka dan mereka bertawakkal kepada robb mereka. Yaitu orang orang yang menegakkan sholat dan meninfakkan sebagian rizki yang kami berikan pada mereka. (Al Anfal 2-3).

هو الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم ولله جنود السماوات والأرض وكان الله عليما حكيما.

Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada), dan milik Alloh lah bala tentara langit dan bumi, dan Alloh maha mengetahui lagi maha bijaksana. (Al Fath 4).

نحن نقص عليك نبأهم بالحق إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى.

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk pada mereka. (Alkahfi 4).

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الإيمان بضع وستون شعبة فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان.

Dari Abu Huroiroh dia berkata, bersabda Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- “Iman itu terdiri dari enam puluh lebih cabang, cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illalloh, dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah cabang dari keimanan. (HR Muslim).

من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار. مسلم [ جزء 1 - صفحة 66 ]

Dari Anas –Rodhiyallohu anhu- dari Nabi –shollallohu alaihi wasallam- bersabda “Tiga perkara, barang siapa yang ada padanya akan mendapati manisnya iman, seorang yang Alloh dan Rosulnya lebih dia cintai dari selain keduanya, dan dia mencintai seseorang tidak-lah dia cintai kecuali karena Alloh, dan seorang yang benci untuk kembali kepada kakafiran setelah Alloh selamatkan dia darinya sebagaimana tidak sukanya dia bila dilemparkan kedalam api. (HR Muslim).

عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم
فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه ومن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
مسلم [ جزء 1 - صفحة 69 ]

Dari Abu Sa`id Al Khudry, dia berkata : aku mendengar Rosululloh –shollallohu alihi wasallam- bersabda “Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran hemdaklah dia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah lemah iman. (HR Muslim).





Selengkapnya...

LANDASAN DASAR MANHAJ AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh “ Dan para imam ahlissunnah wal jama`ah dan ahlil ilmi dan iman, pada merekalah ilmu dan adil dan rahmah (kasih sayang),
Maka mereka (betul betul ) mengetahui kebenaran yang dengannya mereka mencocoki sunnah rosululloh, dan selamat dari kebid`ahan.


Dan mereka adalah orang orang yang bersikap adil terhadap orang yang keluar (menyimpang -pent) dari sunnah, sekalipun orang tersebut berlaku dholim terhadap mereka, sebagaimana firman Alloh Ta`ala :

يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى واتقوا الله
إن الله خبير بما تعملون
Wahai orang orang yang beriman jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Alloh, (ketika) menjadi saksi dengan adil, dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berlaku adilah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Alloh sesungguhnya Alloh maha teliti terhadap apa yang kalian kerjakan. ( Al Maidah 8 )

Dan merekalah orang orang yang menyayangi makhluq, maka mereka sangat menginginkan kebaikan, hidayah (petunjuk ) dan ilmu bagi manusia, mereka sama sekali tidak menghendaki kejelekan pada manusia, bahkan jika mereka menghukum dan menjelaskan kesalahan orang lain atau kebodohannya atau kedholimannya maka maksud mereka dari semua itu adalah dalam rangka menjelaskan kebenaran dan wujud kasih sayang mereka terhadap manusia, dan juga untuk menegakkan al amru bil ma`ruf dan an nahyu anil munkar, serta agar agama ini seluruhnya hanya untuk Alloh dan supaya kalimat Alloh itulah yang tinggi”.

( Ar Roddu Alal Bakry 2/490, lihat pula At Tabshir Bi Qowa`idit Takfir Syaikh Ali Ibn Hasan Al Atsary).

Sungguh suatu manhaj yang sangat agung, suci dan indah, namun betapa banyak orang yang bangga bernasab dengannya, tapi jauh dari sifat agung yang merupakan landasanya.

Semoga Alloh merahmati Imam As Syafi`i dengan perkataannya :

“ Cukup bagi ilmu fadhilahnya dengan bernasabnya kepadanya seorang yang tidak di dalamnya,
Dan marah bila di tiadakan ilmu dari dirinya.

Dan cukuplah bagi kebodohan itu kejeleknya, ketika berlepas diri darinya orang yang memang di dalamnya,

Dan marah bila dinasabkan kepadanya “.

Beliau juga berkata :

“ Mereka (para sahabat ) adalah di atas kita dalam semua bidang ilmu, dan akal, dan agama, dan fadhilah ( keutamaan ), dan dalam semua sebab yang dengannya di raih ilmu dan di peroleh hidayah (petunjuk), dan pendapat mereka untuk kita jauh lebih baik dari pendapat kita untuk diri kita sendiri. ( Majmu` Fatawa 4/158).




Selengkapnya...

Sabtu, 06 Maret 2010

SUMBU SUMBU DAN TONGGAK TONGGAK KEIMANAN

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمْدَ للهِ، نَحمدُهُ، ونَستعينُه، ونَستغفِرُه، ونَعوذُ باللهِ مِن شرورِ أنفُسِنا، وسيِّئاتِ أعمالِنا، مَن يهدِه اللهُ فلا مُضِلَّ له، ومَن يُضلِلْ فلا هادِي له، وأشهدُ أن لا إلهَ إلا الله، وحدهُ لا شريكَ له، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، أما بعدُ:
فإنَّ أصدقَ الحديثِ كلامُ الله، وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ -صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم-، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها،وكلَّ مُحدثةٍ بدعة، وكلَّ بدعةٍ ضَلالة، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ، أمَّا بعدُ:

Bentuk mengikuti petunjuk Alloh ta`ala yang berkaitan dengan masalah keimanan (bahkan seluruh permasalahan agama), adalah dengan :


1.membenarkan seluruh kabar kabar yang datangnya dari Alloh ta`ala dan rosul Nya –shollallohu alaihi wasallam-, tanpa adanya sedikitpun syubhat atau keragu raguan, yang akan menumbuhkan cacat dalam pembenaran dia terhadap kabar kabar tersebut.
2.melaksanakan perintah perintah Alloh dan Rosul Nya, tanpa dirintangi oleh kepentingan syahwat atau memanjakan dan mengikuti kecenderugan hawa nafsu, yang akan menghentikan dirinya dari melaksanakan perintah perintah tersebut.
Di atas dua landasan pokok inilah sumbu iman itu berputar, yaitu pembenaran terhadap kabar dari Alloh ta`ala dan Rosul Nya, dan mentaati semua perintah Alloh dan Rosul Nya. Dan dua landasan pokok ini, disertai oleh dua landasan lain yang merupakan kelaziman dan tuntutan dari keduanya, yaitu pertama meniadakan syubhat syubhat yang berupa kebatilan yang menghampirinya, yang akan menghalangi dirinya dari sempurnanya pembenaran terhadap kabar kabar tadi, dan supaya tidak tercoreng moreng wajah pembenarannya. Kadua menolak syahwat atau kecenderungan kecenderungan hawa nafsu yang menyimpang yang muncul dan jadi penghalang akan sempurnanya ketundukan seorang hamba dalam melaksanakan perintah perintah Robbnya.

Dengan demikian ada empat perkara yang menjadi sumbu keimanan
1.Membenarkan kabar kabar dari Alloh ta`ala dan Rosul Nya –shollallohu alaihi wasallam.
2.Mencurahkan segenap kemampuan untuk menolak segala bentuk syubhat (perancuan) yang ditebarkan oleh syaithon dari kalangan jin dan manusia untuk menumbuhkan keragu-raguan (terhadap kabar kabar tersebut), yang kemudian akan menghalangi dia dari keyakinannya akan kebenarannya.
3.Menta`ati perintah perintah Alloh ta`ala dan Rosul Nya –shollalohu alaihi wasallam-.
4.Memerangi hawa nafsu dalam rangka menolak syahwat atau kecenderungan yang menyimpang, yang merupakan penghalang antara seorang hamba dengan kesempurnaan ketaatannya (kepada Alloh dan Rosul Nya –shollallohu alaihi wasallam-).

Dua perkara ini –yakni fitnah syubhat dan syahwat- merupakan penyebab pokok rusak dan sengsaranya seorang hamba baik dalam kehidupan dunianya maupun akhiratnya.
Sebagaimana dua pokok pertama –yakni pembenaran terhadap kabar kabar dari Alloh dan Rosul Nya –shollallohu alaihi wasallam- dan ketaatan terhadap perintah perintah Nya- merupakan penyebab pokok diperolehnya kebahagiaan dan keberuntungannya dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat negeri tempat kembalinya. Wal hamdulillahi alladzi bini`matihi tatimmusshoolihaat. Walohu a`lam bishowab.
(lihat Miftah Darissa`adah, ta`liq dan takhrij Syaikh Ali Hasan Ibn Abdul Hamid Al Atsary, 1/195-196)





Selengkapnya...

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template