Tampilkan postingan dengan label Ahkam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahkam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

HUKUM RISYWAH (SUAP)

Alloh berfirman :

1. ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقا من أموال الناس بالإثم وأنتم تعلمون.
Dan janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan cara yang batil, dan janganlah kalian menyuap dengan harta itu para hakim, dengan maksud agar kalian bisa memakan sebagian harta orang lain tersebut dengan cara dosa, padahal kalian mengetahui.

2. سماعون للكذب أكالون للسحت فإن جاؤوك فاحكم بينهم أو أعرض عنهم وإن تعرض عنهم فلن يضروك شيئا وإن حكمت فاحكم بينهم بالقسط إن الله يحب المقسطين.

Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan (makanan) yang haram, jika mereka (orang yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan diantara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahyakanmu sedikitpun, tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Alloh menyukai orang orang yang adil. Al Maidah 42.



3. وترى كثيرا منهم يسارعون في الإثم والعدوان وأكلهم السحت لبئس ما كانوا يعملون. لولا ينهاهم الربانيون والأحبار عن قولهم الإثم وأكلهم السحت لبئس ما كانوا يصنعون.

Dan kamu akan melihat banyak diantara mereka (Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, atau permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh sangat buruk apa yang mereka perbuat. Mengapa para ulama dan para pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong, dan memakan yang haram…?? . Sungguh sangat buruk apa yang mereka perbuat. Al maidah 62-63.


Dan dalam hadits :


1. عن أبي هريرة قال : لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي في الحكم. رواه الترمذي. قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Abu Huroiroh –rodhiyallohuanhu-, dia berkata “ Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- melaknat penyuap dan yang disuap dalam hukum". HR. Tirmidy dan Ahmad dan selainnya.

2. عن عبد الله بن عمرو قال : لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي رواه الترمذي. قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح. قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Abdulloh bin Amr –Rodhiyallohu anhu- dia berkata “Rosululloh - shollallohu alaihi wasallam- melaknat penyuap dan yang minta suap”. HR. Tirmidzy, Ahmad Dan selainnya.

Dan dalam bab ini juga diriwayatkan hadits dari beberapa sahabat yaitu “Abdurrohman bin Auf, Tsauban, Hudzaifah, Aisyah, Umu Salamah – Rodhiyallohu anhum –“.

Dari dalil dalil di atas kita bisa mengambil faedah faedah berikut :

a. Haramnya “RISYWAH (suap)” yaitu “memberikan sesuatu baik hadiah atau selainnya, kepada pihak tertentu untuk melegalkan kebatilan atau membatalkan hak dari yang berhak, atau memberikan kepada yang tidak berhak, atau memonopoli hak”.
Dan itu merupakan pola hidup orang orang yahudi, sedangkan orang muslim di wajibkan untuk menyelisihi pola hidup mereka.

b. Orang yang menyuap atau yang menerima suap, keduanya berhak mendapatkan laknat (dilaknat oleh Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- ) yaitu dijauhkan dari rahmat Alloh –na`adzu billahi min dzalik- karena keduanya telah melegalkan kebatilan demi kepentingannya dan bersekutu dan bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.

c. Mendapatkan harta risywah (Suap) adalah penghasilan yang haram, dan itu merupakan prilaku orang orang yahudi yang menghalalkan segala cara, senang memakan harta yang haram, dan mementingkan diri sendiri. Sedang seorang muslim adalah seorang yang dalam mencari rizqi selalu memperhatikan patokan patokan syar`i dan tidaklah dia cari rizqi tersebut kecuali dengan cara yang baik.

Adapun hasil/gaji dari pekerjaan yang halal yang pekerjaan tersebut didapat dengan jalan risywah maka –Allohu a`lam- adalah halal, karena hasil dari pekerjaan tsb tidak terkait langsung dengan risywah sebelumnya. Sebab suap/risywah , tidak mesti memberi pengaruh haram pada pendapatan/gaji dari pekerjaan yang halal. Sebab larangan pada sebuah perbuatan tidaklah memberi konsukuensi larangan atau keharaman serupa pada sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan yang dilarang tersebut. Dikecualikan :
1. Jika larangan tersebut tertuju langsung pada dzat amal atau hasil perbuatan itu sendiri, seperti mendapat harta langsung dari risywah (suap), sebagaimana point c di atas. Sebab larangan langsung tertuju kepada harta risywah tadi. Juga semisal puasanya wanita ketika sedang haid, atau juga puasa pada hari ied. Allohu a`lam
2. Jika larangan tersebut tertuju kepada syarat atau rukun yang menentukan sahnya amalan dimaksud. Semisal berwudhu dengan menggunakan air najis.Dalam hal ini larangan tertuju pada wudhu dengan air najis tersebut, maka wudhu dengan air najis tidak sah, yang berkonsekwensi tidak sahnya sholat karena wudhu merupakan syarat sahnya sholat.

adapun jika larangan tersebut tertuju pada suatu yang diluar dzat amal dan juga syarat atau rukunnya, maka tidak mesti berkonsekwensi rusak atau haramnya dzat amal atau hasil darinya (jika semisal dalam muamalah) Allohu a`lam bishowab.
Misalnya dalam hal ini, larangan ikhtilath pada sebuah pekerjaan tidak berarti pengharaman pada hasil atau pendapatan (gaji) dari pekerjaan tersebut.Larangan ghosob (merampas), tidak berarti shalat dengan mengenakan pakaian dari ghosob tsb, shalat yang dikerjakan tidaklah sah.karena larangan tsb berkait dengan sesuatu yang diluar dzat amal atau syarat amal tsb.
Ini pendapat mayoritas ahli fiqh, kecuali para ulama dari kalangan madzhab hanabilah.

Masalah ini, merupakan contoh dari penerapan kaidah: “APAKAH LARANGAN MENUNTUT RUSAK ATAU HARAMNYA HAL YANG BERKAIT DENGAN NYA” (lihat mandhumah ushul fiqh wa qowaidihi dan juga syarhnya karya syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahululloh-)

d. Masuk dalam hukum dan jenis “RISYWAH (SUAP)” adalah memberi hadiah atau oleh oleh atau apapun namanya kepada pejabat, atau pihak berwenang, untuk meng “GOL” kan hajat dia dan membendung hak orang lain, yang ini biasa dalam dunia perlombaan RISYWAH -tidak sehat alias haram- untuk mendapatkan order dalam proyek proyek basah, dan semisalnya.

Dan diantara realita yang ada sekarang adalah, banyaknya pihak berwenang yang menghalangi hak hak manusia dan memonopoli hal itu, dan hanya akan melicinkan hak tsb bagi mereka yang bisa memberi jumlah banyak yang melebihi lainnya. Intinya siapa yang banyak –buah tangannya- dialah yang mudah mendapatkan hak haknya.

Maka muncul pertanyaan “bagaimana hukum seorang yang memberi hadiah atau sesuatu kepada pihak berwenang tersebut guna memperoleh sebagian hak hak mereka, karena hak tersebut baru bisa diperoleh dengan cara tersebut, kalau tidak maka akan dipersulit atau bahkan tidak diberikan ??”.

Sebagian Ulama kita –semoga Alloh menjaga dan merahmati mereka- memberikan jawaban “ Hal itu boleh dan bukan termasuk risywah (suap), karena risywah dilakukan untuk membatalkan hak atau memberikannya kepada yang tidak berhak, atau melegalkan kebatilan, dan sejenisnya, sedangkan ini bukan untuk itu, tapi untuk menuntut atau mendapatkan haknya, dan tidak diberi atau dipersulit kecuali dengan jalan tersebut”. Allohu A`lam.

Sedang sebagian yang lain dari ulama kita –semoga Alloh menjaga mereka dan merahmatinya_ menyatakan “ Bahwa itu tetap tidak boleh, karena memberikan harta atau hadiah kepada mereka tadi akan membantu mereka dalam kedholiman mereka, dan mereka akan terus menjadikan hal itu kesempatan untuk mengeruk harta manusia dengan cara menghalangi manusia dari memperoleh sebagian hak hak mereka.
Dan juga Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan sahabat anshor untuk bersabar ketika dia kelak menjumpai waktu dimana sifat mementingkan diri sendiri, dan kemungkaran serta monopoli hak telah tersebar dikalangan pejabat atau pihak pihak yang menangani urusan manusia, atau pemimpin yang biasa menukar tugas dan wewenang dengan iming iming dunia.

عن أسيد بن حضير رضي الله عنه: أن رجلا من الأنصار قال يا رسول الله ألا تستعملني كما استعملت فلانا ؟ قال ( ستلقون بعدي أثرة فاصبروا حتى تلقوني على الحوض ) صحيح البخاري
Dari Usaid bin Khudhoir-Rodhiyallohu anhu- bahwa seorang anshor berkata : Ya Rosulalloh, tidakkah engkau jadikan aku pekerja sebagaimana si fulan?, Rosululloh menjawab “Kalian akan menjumpai setelahku sikap mementingkan diri sendiri (monopoli), maka bersabarlah sampai kalian bertemu aku di telaga. HR Bukhory

عن هشام قال سمعت أنس بن مالك رضي الله عنه يقول: قال النبي صلى الله عليه وسلم للأنصار ( إنكم ستلقون بعدي أثرة فاصبروا حتى تلقوني وموعدكم الحوض ) صحيح البخاري
Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- bersabda : “Kalian akan menjumpai setelahku sikap mementingkan diri sendiri (monopoli), maka bersabarlah sampai kalian bertemu aku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga. HR Bukhory
Dalam keadaan seperti itu rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan untuk bersabar dan meminta kepada Alloh bagiannya, dan tidak dianjurkan untuk menyuap pihak berwenang dalam mendapatkan hak haknya yang terdholimi. Allohu a`lam’

Untuk hati hati dan selamatnya, maka hendaklah kita bertakwa kepada Alloh dan menyelamatkan diri dari pola hidup seperti itu, dan bersabar serta bertawakkal kepada Alloh.
Semoga Alloh menolong dan memperbaiki para pemimpin kita dan seluruh kaum muslimin, dan meletakan serta menguatkan sifat amanah pada hati hati mereka. Wallohul musta`an.
Selengkapnya...

Senin, 27 Desember 2010

SIFAT TANGAN KETIKA I`TIDAL DARI RUKUK DAN KETIKA DUDUK DIANTARA DUA SUJUD -SYAIKH MUHAMMAD SA`ID RUSLAN -HAFIDHOHULLOH--(EDISI BAHASA ARAB)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنامن يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم
أما بعد,فهذا تحقيقٌ وطَرْحٌ علمي لمسألة وضعُ اليدينِ بينَ السجدتينِ, وهو مستلٌ من شرح الشيخ محمد سعيد رسلان - حفظه الله - لصفة الصلاة من الشرح الممتع على زاد المستقنع للشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين - رحمه الله - وإليكم تفريغي للمادة العلمية:

التحقيق في مسألة وضع اليدين بين السجدتين
فقد ذكر الشيخ الشارح محمد بن صالح - رحمه الله تعالى رحمة واسعة - عند قول المصنف - رحمه الله تعالى - في الجلوس ذاكراً بين السجدتين ويقول: رب اغفر لي
قال الشيخ الشارح - رحمه الله تعالى - : لم يذكر المؤلف - رحمه الله - أين يضع اليدين؟ وكيف تكونان؟ مع أنه من الأمر المهم في هذه الجلسة, فلنبينه.
ثم ذكر - رحمه الله - صفتين:
الصفه الأولى: يضع يديه على فخذيه وأطراف أصابعه عند ركبتيه.

أخرج مسلم عن ابن عمر - رضى الله عنهما - أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها.
والشيخ - رحمه الله تعالى - ذكر هذه الصفة وقال يضع يديه على فخذيه وأطراف أصابعه عند ركبتيه.
ثم ذكر الصفة الثانية فقال: يضع اليد اليمنى على الركبة واليد اليسرى يلقمها الركبة كأنه قابض لها.وعند مسلم في صحيحه: ويلقم كفه اليسرى ركبته.
قال الشيخ - رحمه الله تعالى - : وأما كيف تكون اليدان؟ فبالنسبة لليسرى تكون مبسوطة مضمومة الأصابع موجهة إلى القبلة ويكون طرف المرفق عند طرف الفخذ بمعنى لا يفرجها بل يضمها إلى الفخذ, وفي هذا حديث عند أبي داود والنسائي وهو حديث صحيح وكان صلى الله عليه وسلم يضع حد مرفقه الأيمن على فخذه الأيمن, والحد هنا النهاية, هذا بالنسبة لليسرى.
وأما بالنسبة إلى اليمنى فإن السنة تدل على أنه يقبض منها الخنصر والبنصر ويحلق الإبهام مع الوسطى ويرفع السبابة ويحركها عند الدعاء, هكذا جاء فيما رواه الإمام أحمد وكذلك رواه أبو داود والنسائي وابن خزيمه وابن حبان وابن الجارود في المنتقى من حديث وائل بن حجر - رضى الله عنه - بسند قال فيه صاحب الفتح الرباني أنه جيد, وقال فيه المُحشي على زاد المعاد أنه صحيح, وإلى هذا ذهب ابن القيم - رحمه الله تعالى - .
فهذا النص يمكن أن يُدفع ولكن هل هذا النص هو الذى استند إليه الشيخ الشارح في تقرير هذا الأمر بالنسبة لليد اليمنى عند الجلوس بين السجدتين؟ حتى إذا ما قيل إن هذا الحديث ضعيف سقط الإستدلال! هل ذهب إلى هذا الحديث؟
لم يلتفت الشيخ الشارح - رحمه الله تعالى - عند الإستدلال وتقرير هذه السنة كما ذهب إلى ذلك إلى هذا الحديث أصلاً, وسترى ذلك إن شاء الله.

قال: أما الفقهاء فيرون أن اليد اليمنى تكون مبسوطة في الجلسة بين السجدتين كاليد اليسرى. قال: ولكن اتباع السنة أولى.
من أين؟ قال: لم يرد في السنة لا في حديث صحيح ولا ضعيف ولا حسن أن اليد اليمنى تكون مبسوطة على الرجل اليمنى وإنما ورد أنها تقبض, يقبض الخنصر والبنصر ويحلق الإبهام مع الوسطى أو تضم الوسطى أيضاً ويضم إليها الإبهام إذا جلس في الصلاة.
الهيئة الأولى: أنه يقبض الخنصر والبنصر ويحلق الإبهام مع الوسطى, هذا عند مسلم في صحيحه عن علي بن عبد الرحمن المعاوي أنه قال: رآني عبد الله بن عمر وأنا أعبث بالحصى في الصلاة فلما انصرف نهاني فقال: اصنع كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصنع, فقلت وكيف كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصنع؟ قال: كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بأصبعه التي تلي الإبهام ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى.
تأمل هنا في كلام ابن عمر - رضي الله عنهما - : كان إذا جلس في الصلاة.
لأن هذا سيحتاجه الشيخ في الإستدلال, قال: كان إذا جلس في الصلاة, هكذا على العموم من غير تخصيص, إذا جلس في الصلاة.
وأما الهيئة الثانية: أن تضم الوسطى وأن يضم إليها الإبهام إذا جلس في الصلاة, فعند مسلم في صحيحه عن ابن عمر - رضي الله عنهما - : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا قعد في التشهد, في التشهد وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى ووضع يده اليمنى على ركبته اليمنى وعقد ثلاثة وخمسين وأشار بالسبابة.
وأيضاً عند مسلم عن ابن عمر - رضي الله عنهما - : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمنى التي تلي الإبهام فدعى بها ويده اليسرى على ركبته اليسرى باسطها عليها.
وعند مسلم عن عبد الله بن الزبير عن أبيه - رضي الله عنه - قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قعد يدعو - يعني يتشهد - وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى وأشار بأصبعه السبابة ووضع إبهامه على أصبعه الوسطى ويلقم كفه اليسرى ركبته. قال الشيخ - رحمه الله - : إذا جلس في الصلاة وفي بعض الألفاظ إذا جلس في التشهد. تأمل في دليله حتى إذا ما ورد ما ينقضه نُقض وإذا لم يرد على دليله ناقض يبقى على حاله.
قال - رحمه الله تعالى - : إذا جلس في الصلاة وهذا وارد كما عند مسلم في الصحيح وفي بعض الألفاظ: إذا جلس في التشهد وكلاهما في صحيح مسلم, فنحن إذا أخذنا كلمة: إذا جلس في الصلاة, قلنا هذا عام في جميع الجلسات.
وأما قوله إذا جلس في التشهد في بعض الألفاظ فهذا لا يدل على التخصيص.
الآن الدليل لا علاقة له بحديث يصح أو يُدفع, مضعفاً أو يُحكم عليه حتى بالوضع, ما لنا ولهذا, يعني إذا ورد دليل على أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحرك إصبعه في الجلسة بين السجدتين ثم دُفع هذا الدليل وحُكم عليه بالوضع, يقال إن هذا الدليل الذي ذكره الشيخ منقوض أيضاً!
هذا الدليل الذي عند الشيخ يحتاج عند النقض إلى أمرين:
إما أن يُدفع بفساد الإستدلال, وهيهات! هذا أولاً.
الأمر الثاني: أن يأتي نص على عكس ما قرره, ولا دليل ولا نص, وكما قال هو - رحمه الله - لم يرد في السنة لا في حديث صحيح ولا ضعيف ولا حسن أن اليد اليمنى تكون مبسوطة على الرجل اليمنى, فأين الدليل؟
وهذا تماماً كالذي مر ذكره عند القيام من الركوع, تضع اليد اليمنى على اليد اليسرى على الصدر.
وفي الإستدلال العقلي الذي لا يُرد: لكل حركة ولكل هيئة في الصلاة وضع لليدين قررته السنة من البداية إلى النهاية.
فلما استدل العلماء - عليهم الرحمة - بأنه إذا قام من الركوع عاد إلى ما كان عليه قبل ذلك, ألحقوا هذا بهذا, ألحقوا هذا القيام بالذي كان قبله.
فإذا قال قائل: بل يرسلهما, نقول له: عليك الدليل, فأين الدليل؟ لأنه ما من حركة من حركات الصلاة إلا ولليدين وضع فيها, فأين وضع اليدين بالإرسال فيما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الموضع بعد القيام من الركوع, أين هو؟ لا شيء, وعليه فهذا الذي معنا من استدلال الشيخ لا علاقة له بأن يكون ابن القيم - رحمة الله عليه - صحح رواية وائل بن حُجر واعتمدها وقال بالتحريك تبعاً لها ثم تبين أنها ضعيفة غير ثابتة لأنها شاذة كما سيأتي في كلام الشيخ ناصر, ما علاقة هذا بما نحن فيه! وهل استدل الشيخ بهذا الحديث الضعيف؟ لم يستدل بهذا الحديث الضعيف حتى يقال إن الحديث لا يثبت ولا تثبت به سنة, ولكن انظر إلى استدلاله - رحمة الله عليه - يقول: لم يرد في السنة في حديث صحيح ولا ضعيف ولا حسن أن اليد اليمنى تكون مبسوطة على الرجل اليمنى إنما ورد أنها تقبض, يقبض الخنصر والبنصر ويحلق الإبهام مع الوسطى أو تضم الوسطى أيضاً ويضم إليها الإبهام إذا جلس في الصلاة, وقد ذكرت الأحاديث بنصوصها وهي عند مسلم في الصحيح, قال: وفي بعض الألفاظ: إذا جلس في الصلاة, عامة. وفي بعض الألفاظ: إذا جلس في التشهد, خاصة. وكلاهما في صحيح مسلم.
فنحن إذا أخذنا كلمة: إذا جلس في الصلاة, قلنا هذا عام في جميع الجلسات, وقوله: إذا جلس في التشهد في بعض الألفاظ لا يدل على التخصيص.
والذي يريد أن يدفع هذا الدليل عليه أن ينقض هذه القاعدة, وعليه أن يقول هذا فاسد يُرد ولا يُعتمد, ولكن أين؟ وكيف!
قال - رحمه الله - : لدينا قاعدة ذكرها الأصوليون وممن كان يذكرها دائماً الشوكاني في نيل الأوطار والشنقيطي في أضواء البيان: أنه إذا ذُكر بعض أفراد العام بحكم يطابق العام فإن ذلك لا يدل على التخصيص وإنما يدل على مزيد عناية واهتمام.
والحكم هنا كالحكم هنا, فأين التخصيص!
إنما التخصيص: أن يُذكر بعض أفراد العام بحكم يخالف العام, فهذا هو التخصيص.
ومثال الأول: وهو أنه إذا ذكر بعض أفراد العام بحكم يطابق العام فإن ذلك لا يدل على التخصيص, فالمثال هو: إذا قلت لك أكرم الطلبة, وهذا عام يشمل كل طالب ثم قلت أكرم فلاناً وهو من الطلبة, فهل يقتضي هذا ألا تكرم سواه؟
لا يدل على التخصيص, وإنما يدل على مزيد عناية من أجلها خصصته بالذكر.

وأما مثال الثاني: وهو أنه إذا ذُكر بعض أفراد العام بحكم يخالف العام فإنه يدل على التخصيص, فهذا المثال إذا قلت لك أكرم الطلبة ثم قلت لا تكرم فلاناً وهو من الطلبة, فهذا تخصيص, لأنني في الأول ذكرت فلاناً بحكم يوافق العام لدخوله في العموم, وهنا ذكرته بحكم يخالف العام, ولهذا يقولون في تعريف الخاص: تخصيص بعض أفراد العام بحكم مخالف أو إخراج بعض أفراد العام من الحكم.
فلابد أن يكون مخالفاً, أما إذا كان موافقاً فإن جمهور الأصوليين كما حكاه صاحب أضواء البيان يرون أنه لا يفيد التخصيص, وهو ظاهر كما في المثال الذي ذُكر.
وعلى هذا فيكون بعض ألفاظ حديث ابن عمر.
هذا استدلاله, فمن أراد أن يدفعه فعليه أن يأتي بواحد من أمرين:
الأمر الأول: أن يأتي بحديث يناقض ما ذهب إليه من نتيجة هذا الإستدلال.
والأمر الثاني: لأنه لا حديث ولا نص كما قال - رحمة الله عليه - لا صحيح ولا ضعيف ولا حسن فيه أنه صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يجعل يده اليمنى مبسوطة على رجله في الجلسة, لا نص مطلقاً.
فإذا ما جاء النص كان قاطعاً للنزاع وقلنا بفساد الإستدلال, فإن لم يوجد النص فمن أراد أن يدفع هذا الكلام فعليه أن يُبطل هذا الإستدلال وأن يدل على فساد هذا الإستدلال.وهيهات, دون ذلك خرط القتاد, لا يُدفع.
المهم قال - رحمه الله - : على هذا فيكون بعض ألفاظ حديث ابن عمر الذي خص القبض بالتشهد لا يقتضي التخصيص من بعض ألفاظه الدالة على العموم.
أما الفقهاء - رحمهم الله - فقالوا في هذه الجلسة يبسط يده اليمنى كما يبسط يده اليسرى. من أين الدليل؟ لا دليل, تماماً كما قالوا يرسل يديه إذا قام من الركوع, فإذا قيل ما الدليل؟ لا دليل, ويقولون عليكم أنتم بالدليل, نقول: سبحان الله! إن الأمر يعود إلى ما كان عليه يعني قبل الركوع وكانت اليد اليمنى على اليد اليسرى قابضة عليها أو مبسوطة على الهيئتين ثم يعود الأمر إلى ما كان عليه إذا قام من الركوع.
فهنا قال الفقهاء: يبسط يده اليمنى كما يبسط يده اليسرى, وبناء على كلام الفقهاء تكون كل جلسة من جلسات الصلاة مخالفة للأخرى من أجل التمييز.
فالجلسة بين السجدتين: افتراش مع كون اليدين مبسوطتين, وفي التشهد الأول: افتراش لكن اليمنى تقبض, وفي التشهد الأخير: تورك, وإن كان يوافق التشهد الأول في قبض اليد.
فهم - رحمهم الله - يجعلون لكل جلسة صفة تميزها عن الجلسات الأخرى.
يعني: أن الفقهاء يجعلون ذلك كذلك بلا دليل ولا نص, ولا قياس حتى معقود.
وأما استدلال الشيخ فهو الذي مر.
فمن أراد أن يفعل هذا مستنداً إلى ما ذهب إليه الشيخ الشارح الشيخ صالح - رحمة الله عليه - فبها وقرة عين ومن قال بأنه يبسط اليد كما يقول الفقهاء - ولا دليل - فالله المستعان.

ولكن لا يوجب ذلك تهاجراً ولا تخاصماً ولا تخالفاً. اهـ

قام بتفريغ المادة:
الفقير إلى ربِ العالمين
أبو عبد الله هيثم فايد
_________ Selengkapnya...

Sabtu, 01 Mei 2010

AQIQOH DAN NAFKAH ANAK ZINA

As Syaikh Al Alaamah Abdul aziz Ibn Baz –Rahimahulloh Ta`ala- pernah ditanya “Apakah disyari`atkan seorang wanita untuk mengaqiqohi anaknya dari zina dan apakah wajib untuk menafkahinya”…???


Beliau menjawab “Ya, dia aqiqohi, disunahkan atasnya untuk mengaqiqohi anaknya dari zina, dan wajib untuk memberikan kepadanya nafkah jika dia mempunyai kemampuan untuk itu. Dan jika tidak mampu, maka dia mencari pengasuh di negerinya dan dia serahkan pada mereka. Dan juga –jika dia mampu- hendaklah dia mendidik anaknya tersebut dan berbuat baik terhadapnya, serta dia aqiqohi. Dan seharusnya dia mendidiknya dan juga dia harus bertaubat dari perbuatan (zinanya). Anak tersebut dinasabkan kepadanya (bukan kepada laki laki yang menzinainya -pent). Wajib atas laki laki yang menzinainya untuk bertaubat dari perbuatannya tersebut, dan dia tidak punya kewajiban memberi nafkah kepada anak zinanya, karena anak itu bukan anaknya. Itu anak zina. Wajib laki laki tersebut bertaubat. Tapi anak milik wanita tadi dan dinasabkan kepadanya. Dan dia yang wajib menanggung nafkah nya”. (Majmu` Fatawa wa Maqolaat mutanawwi`ah, jilid 28, syaikh Ibn Baz).

Wa nas`alullohal `afiyah.
Selengkapnya...

Minggu, 28 Februari 2010

SHODAQOH YANG DILALAIKAN BANYAK MANUSIA, TDK KETINGGALAN PULA SEBAGIAN PENUNTUT ILMU

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

Amma ba`du, maka ini adalah peringatan –dan berilah peringatan karena peringatan itu bermanfaat untuk orang orang yang beriman- akan suatu shodaqoh yang sangat jarang ana lihat orang yang menunaikannya di negeriku, wallohul musyta`an.


Dan tidaklah –kelalaian –itu kecuali disebabkan dua hal :
1.Ketidak tahuan manusia akan shodaqoh ini, dan ini merupakan sebab utama dari tidak ditunaikannya.
2.Malas untuk menunaikannya atas mereka yang telah memiliki ilmu tentangnya, hal ini berimbas pada teremehkannya sunnah yang Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- sangat anjurkan, dan para ulama telah sebutkan kebagusan kebagusan yang ada padanya dalam kitab kitab mereka –rahimahumulloh-.

Maka –dengan memohon pertolongan Alloh ta`ala- kami sampaikan :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه : { أن رجلاً دخل المسجد وقد صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بأصحابه ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من يتصدق على ذا فيصلي معه ؟ فقام رجل من القوم فصلى معه } .
رواه أحمد ( 3 / 5، 45، 64، 85 ) وأبو داود ( 574 ) والترمذي بمعناه وابن أبي شيبة في المصنف ( 2 / 322 ) والحاكم ( 1 / 209 ) وغيرهم، وصحّحه الحاكم، ووافقه الذهبي والألباني .
Dari Abi Sa`id Al Khudry –Rodhiyallohu `anhu- “bahwa seseorang masuk ke masjid, dan Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- telah selesai sholat bersama para sahabatnya, maka berkata rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- “Siapakah yang akan bershodaqoh kepada orang ini dengan sholat bersamanya?, maka berdirilah sesorang dari kaum tadi, lalu sholat bersamanya.(HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Abi Syaibah dan lainnya, dishohihkan oleh imam Al Hakim dan disepakati Ad Dzahaby dan Al Albany).

وفي رواية لأحمد : { صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بأصحابه الظهر ، فدخل رجل ...وذكره }

Dan dalam riwayat Imam Ahmad “Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- telah sholat bersama para sahabat sholat dhuhur, lalu masuklah seseorang…. Kemudian menyebutkan lanjutan hadits).

قوله : ( أن رجلاً دخل المسجد )، جاء في لفظ أبي داود " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أبصر رجلا يصلي وحده " .
Ucapannya “bahwa seseorang masuk ke masjid”, dan dalam lafadz Abi Dawud “Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- melihat seseorang sholat sendirian”.

قوله : ( من يتصدق )، جاء في لفظ أبي داود " ألا رجل يتصدق " ، ولفظ الترمذي : " أيكم يتجر على هذا ؟ "
Perkataannya “Siapa yang akan bershodaqoh”, Pada lafadz Abu Dawud “Siapakah seoarang yang mau bershodaqoh”. Dan dalam lafadz Tirmidzi “siapa diantara kalian yang mau berniaga dengan orang ini?!”.
قوله : ( فقام رجل من القوم فصلى معه ) هو أبو بكر الصديق كما بيّن ذلك ابن أبي شيبة .
Perkataannya “Maka berdirilah seseorang dari kaum tersebut lalu sholat bersamanya”, dia adalah Abu Bakar As Shiddiq, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
Hadits tersebut menunjukkan “disyari`atkan sholat bersama (berjama`ah) dengan orang yang sholat sendirian, sekalipun dia tadi sudah sholat bersama jama`ah.
Berkata Ibnu Rif`ah “Sungguh semua telah sepakat, bahwa siapa yang mendapati seseorang sholat sendirian karena tidak mendapati jama`ah, disunnahkan baginya untuk sholat bersama orang tersebut, meskipun dia telah sholat bersama jama`ah.
Berkata Syaikh Ahmad Syakir –Rahimahulloh- dalam ta`liqnya atas sunan Tirmidzi (1/431) “sesungguhnya seorang yang luput atasnya sholat jama`ah karena suatu uzur, lalu bershodaqoh kepadanya salah seorang saudaranya dari jama`ah tersebut dengan sholat bersamanya, sekalipun dia tadi sudah sholat jama`ah, maka orang tersebut akan merasakan dalam dirinya bahwa dia adalah bagian yang satu dari jama`ah tersebut dan dia juga tidak merasa terluputkan atasnya sholat (jama`ah –pent).

Berkata Abu Mu`awiyah (penulis risalah ini) -`Afallohu anhu- dan diantara faidah sunnah yang sudah banyak dilalaikan oleh manusia, adalah memulihkan hati saudara muslim yang terluputkan pahala sholat jama`ah, dan memberikan isyarat pada jiwa akan ukhuwah (persaudaraan) dan tolong menolong (sesama muslim –pent). Sebagaimana sabda Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- “Muslim adalah saudara muslim yang lain, sebagian memperkuat sebagian yang lain”. (HR Bukhori dan Muslim), dan Imam Bukhory menambah dalam riwayatnya “Lalu rosululloh menganyam (dan merekatkan) jari jarinya”.

Dan tidak lupa saya ingatkan bahwa sholat (jama`ah) sekalipun hanya berdua, posisi makmum adalah sejajar lurus disebelah kanan imam, dan tidak mundur sedikit sebagaimana yang dilakukan sebagian orang.
Al Imam Al Bukhory telah membuat bab dalam shohihnya, bab yang ke 27 dalam kitab Al Adzan “Bab berdiri disebelah kanan imam sejajar lurus bila sholat (jama`ah) hanya dua orang”. Kemudian beliau membawakan hadits dari Ibnu Abbas –Rodhiyallohu anhuma- dia Berkata “Aku bermalam di rumah bibi ku Maimunah, lalu Rosululloh sholat isya, kemudian datang dan sholat empat raka`at, lalu beliau tidur, kemudian bangun (untuk sholat), maka aku dating dan berdiri disamping kiri beliau, maka beliau menjadikan posisiku disebelah kanannya, kemudian sholat lima raka`at.
Berkata Al Hafidz dalam Fathul Barri (2-243), “perkataanya (Imam Bukhory) dalam bab “Sawaa-an” (Lurus), yaitu “tidak maju dan tidak mundur”.
Walhamdulillahi bini`matihi tatimmusshoolihaat.

Dinukil dan diterjemahkan dari tulisan Akh Abu Mu`awiyah Al Bairuty tgl 27 Shofar 1431 H, Muntadayat “Kullal Salafiyen”.



Selengkapnya...

Sabtu, 27 Februari 2010

TELEVISI YANG MASIH SANGAT DILALAIKAN...!!!?

Fatwa Lajnah Da`imah no 2358

•Adapun televisi, itu adalah sekedar alat yang tidak terkait secara dzatnya dengan suatu hukum. Akan tetapi dilihat dari sisi penggunaannya.

Bila digunakan untuk hal yang haram, semisal nyanyian nyanyian yang tak mengenal rasa malu, menampilkan gambar gambar yang menfitnah (porno), lawak, kedustaan, berita yang dibuat buat, penyimpangan dan membalik kenyataan, juga acara yang mengobarkan fitnah dan lain lain yang semisalnya, maka hukumnya haram. Adapun jika digunakan untuk hal yang baik, semisal bacaan qur`an, dan menerangkan kebenaran, al amru bil ma`ruf dan an nahyu anil munkar, dan lainnya yang semisal itu, maka boleh. Dan bila berisi kedua duanya (baik dan buruk) secara seimbang, atau lebih dominan yang buruk,maka hukumnya juga haram. Washollallohu ala nabiyyina Muhammadin wa alihi washohbihi wasallam. (Lajnah Daimah Lilbuhuts ilmiyah wal Ifta, ketua Syaikh Ibnu Baz Rahimahulloh.







Selengkapnya...

KIRIM FOTO UNTUK ISTRI TERCINTA, BOLEHKAH...???

Fatwa Lajnah Da`imah no 2186

•Soal : “Bila saya berada jauh di luar negeri, lalu saya ingin kirim foto foto saya kepada keluarga, atau teman teman dan khususnya istri saya, apakah hal itu dibolehkan?”.


•Jawab : “Alhamdulillah, sholawat dan salam atas nabi kita Muhammad –shollallohu alaihi wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Wa ba`du. “Sungguh hadits hadits yang shohih dari rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- telah menunjukan akan haramnya menggambar makhluk bernyawa baik manusia atau yang lain, maka tidak boleh anda menggambar (menfoto) diri anda sendiri lalu anda kirimkan kepada keluarga atau istri anda. Wabillahi at taufiq washollallohu ala nabiyyina Muhammadin wa aalihi washohbihi wasallam. (Lajnah Daimah Lil Buhutsil ilmiyah Wal Ifta), ketua Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdulloh Ibn Baz.



Selengkapnya...

HUKUM MENGGUGURKAN JANIN

•Bila janin dalam rahim berumur empat puluh hari pertama dan masih berupa “Nuthfah” (Sperma) maka bolehkah untuk digugurkan?


Syaikh Muhammad Ibn Sholeh Al Utsaimin menjawab :

“Para Fuqoha (Ahli Fiqh) Rahimahumulloh menyebutkan : boleh menggugurkannya dengan mengkonsumsi obat obatan yang mubah. Mereka berkata “karena pada usia tersebut belum terbentuk manusia dan belum didapati padanya asal manusia yaitu darah. Dan yang lain Rahimahumulloh berkata “tidak boleh menggugurkannya, karena Alloh ta`ala berfirman : al mursalat 21 22.

فجعلناه في قرار مكين . إلى قدر معلوم .
Kemudian Kami tempatkan dia pada tempat yang kokoh (rahim),
sampai pada waktu yang telah ditetukan.

Maka tidak boleh kita untuk melintasi rahim tersebut dan mengeluarkan janin darinya, dan ini yang lebih dekat kepada kebenaran yakni bahwa hal itu haram hukumnya, akan tetapi keharamannya tidak seperti keharaman ketika usianya mencapai empat bulan.
maka bila didapati seorang wanita itu sakit, dan dikhawatirkan atas keselamatannya maka apakah boleh menggugurkan janin yang masih berbentuk nuthfah ini?
Jawabnya “ya dibolehkan, karena menggugurkannya dalam kondisi seperti itu merupakan perkara yang dhorury (harus).
• Adapun setelah ditiupkannya ruh (yaitu setelah sempurna empat bulan), haram untuk menggugurkannya secara mutlak dalam kondisi apapun. Karena menggugurkannya merupakan sebab akan kematiannya, maka tidak boleh membunuhnya karena dia telah menjadi seorang manusia.
Kalau ada yang berkata “bagaimana pendapatmu bila dibiarkannya janin tersebut akan menyebabkan kematian ibunya? Apakah digugurkan agar ibunya tetap hidup, atau dibiarkan dan akan membawa kematian ibunya dan akhirnya juga kematian janinnya tersebut?”.
Maka jawabnya “kami katakana :mungkin orang yang berprasangka baik akan memilih pendapat yang pertama (digugurkan), tapi prasangka baik ini berbenturan dengan syari`at.
Maka kita katakan “ yang kedua (haram menggugurkannya) itulah yang musti (dipilih). Hatta sekalipun para dokter berpendapat “bahwa jika dibiarkan janin tersebut akan membawa kematian ibunya”. Dan kadang kadang juga beralasan orang yang berpendapat untuk digugurkan, bahwa bila mati ibunya akan berimbas pada kematian janinnya juga, maka hilanglah dua nyawa sekaligus, tapi bila kita gugurkan janin, maka yang mati hanya janinnya sedang ibunya selamat.
Maka jawaban terhadap pendapat yang rusak ini kita katakan :
1. Membunuh satu jiwa, untuk hidupnya jiwa yang lain, ini tidak boleh. Untuk itu andaikan dua orang bepergian di padang yang luas dan keduanya tidak membawa bekal, dan adalah kedua orang tersebut yang satu sudah besar (dewasa), dan satunya masih kecil umur sekitar 10 atau 9 tahun. Lalu yang besar ini lapar sekali yang sekiranya tidak makan akan mati, maka tidak boleh baginya untuk menyembelih (membunuh -pent) yang kecil, lalu dia makan untuk mempertahankan hidupnya, menurut kesepakatan kaum muslimin.
Karena itu kita katakana pula, andaikan kita gugurkan janin tersebut, dan mati maka kitalah pembunuhnya, dan andaikan kita biarkan lalu mati ibunya, kemudian juga janinnya, maka Allohlah yang menentukan kematiannya dan bukan dari perbuatan kita.
3. Tidak melazimkan kematian ibu akan kematian janinnya, lebih lebih pada masa sekarang. Karena sangat mungkin untuk dilakukan operasi (cesar) secara cepat untuk menyelamatkan janin tersebut. Dan juga andaikan janin tersebut mati dalam rahim ibunya murni dari sisi Alloh, maka tidak mengharuskan kematian ibunya, sebab dengan cepat pula bisa dilakukan operasi (cesar) tadi.

Kesimpulannya “Bahwa bila telah ditiupkan roh pada janin maka tidak boleh untuk digugurkan apapun kondisi dan alasanya.
Allohu a`lam bisshowaab. (Syarh Arba`in hal 106 dan 108-109)





Selengkapnya...

Jumat, 26 Februari 2010

SYAIKH IBNU BAZ RAHIMAHULLOH "MELIHAT BETIS WANITA PINANGAN"

AS Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdulloh Ibn Baz Rahimahulloh

Beliau ditanya tentang tafsir ayat 44 surat An Naml,

قيل لها ادخلي الصرح فلما رأته حسبته لجة وكشفت عن ساقيها قال إنه صرح ممرد من قوارير قالت رب إني ظلمت نفسي وأسلمت مع سليمان لله رب العالمين

Dikatakan kepadanya (Balqis) “masuklah kedalam istana, maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya, dia (Sulaiman) berkata “sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca. “dia (Balqis) berkata “Ya Tuhanku sungguh aku telah berbuat dholim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Alloh, Tuhan seluruh alam”.


Syaikh Ibn Baz rahimahulloh menjawab “Ayat tersebut jelas, tidak ada padanya kesamaran, ini adalah istana Sulaiman yang dilapisi kaca, yang dikira oleh Balqis air, maka dia singkap kedua betisnya, dia kira itu kolam air dan ternyata bukan. Kemudian jelas baginya kebenaran dakwah yang diserukan Sulaiman kepadanya yaitu tentang agama Alloh dan mentauhidkan Alloh. Lalu dia kabarkan bahwa dia telah mendholimi dirinya sendiri dengan kekufuran (dia selama ini), dan dia menyatakan berserah diri bersama sulaiman kepada Alloh robb semesta alam, dengan masuk kedalam agama islam, dan menerima dakwah Sulaiman yang mengajaknya kepada islam. Kemudian setelah itu Sulaiman `alaihissalam menikahinya. Dan yang dimaksud oleh ayat ini jelas, bahwa tersingkapnya kedua betis (Balqis) menumbuhkan dorongan bagi Sulaiman ketika ia melihat kedua kakinya untuk menikahinya, sebagaimana disebutkan oleh para ahli tafsir. Maka -dari situ- boleh bagi laki laki yang meminang atau ingin menikahi seorang wanita, untuk melihat kedua kakinya (betisnya), wajahnya, tangannya, tidak mengapa baginya itu. (karena) tersingkapnya kedua betis (Balqis) tsb, menjadi pendorong bagi Sulaiman untuk menikahinya –sebagaimana disebutkan para ahli tafsir-. Adapun dia mendesain istananya dengan bentuk seperti itu, dikarenakan adanya sebab yang menurut Sulaiman -`Alaihssalam- (maslahah). Jazakumulloh Khoiron.

(Fatawa Nur `Ala Darb, Syaikh Ibn Baz.) dinukil oleh Abul Fida As Salafy
- Sahab Net As Salafiyah-



Selengkapnya...

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template